Selasa, 13 Maret 2012

1. PEREKONOMIAN INDONESIA

PEREKONOMIAN INDONESIA

Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan laporan tentang produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal IV-2011, sekaligus melaporkan kinerja perekonomian sepanjang tahun lalu.

Dewasa ini bisa dikatakan hanya segelintir negara yang memiliki kinerja perekonomian bagus. Secara global, Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan beberapa kali melakukan revisi ke bawah terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Bahkan China, misalnya, juga dilaporkan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi, meski masih berada pada level yang tinggi.

Demikian juga India yang awalnya didera pemanasan ekonomi, akhirnya mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi cukup tinggi setelah Bank Sentral India (RBI) menaikkan suku bunga 13 kali dalam 20 bulan. Dengan keadaan seperti itu, rasanya merupakan karunia yang besar dapat melihat perekonomian Indonesia tumbuh 6,5 persen sepanjang 2011, lebih tinggi dibandingkan 6,1 persen pada tahun sebelumnya. Keadaan ini merupakan suatu anomali bagi perkembangan ekonomi dunia, sehingga Indonesia serta-merta semakin masuk dalam radar investor global.

Yang menjadi pertanyaan, apakah perekonomian Indonesia mampu tumbuh lebih tinggi lagi? Untuk pertanyaan semacam ini, senantiasa memiliki jawaban “ya”. Jawaban ini terkait potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang memang memungkinkan untuk tumbuh lebih tinggi lagi. Jika pemerintah mampu mengoptimalkan anggarannya untuk pengeluaran yang lebih produktif, misalnya lebih banyak melakukan pembangunan infrastruktur, kinerja ekonomi Indonesia pasti akan lebih baik dari yang kita capai ini.

Di lain pihak, data statistik perekonomian kita rasanya masih mengandung pelaporan di bawah yang sebenarnya di sana-sini. Ini berarti, PDB yang dilaporkan sebesar Rp7.427,1 triliun (berdasarkan harga berlaku) sebetulnya lebih tinggi lagi. Untuk poin kedua, dapat menggunakan contoh sangat mencolok, yaitu subsektor perkebunan. Subsektor ini pada 2010 dilaporkan menyumbang PDB (berdasarkan harga yang berlaku) Rp135,3 triliun.

Namun sampai kuartal III-2011, sumbangan PDB subsektor perkebunan mencapai Rp121,3 triliun. Sangat mungkin sumbangan subsektor tersebut sepanjang 2011 lebih dari Rp140 triliun. Mengingat sektor ini mencakup begitu banyak tanaman, seperti kelapa sawit, karet, cokelat, kopi, teh, rempah-rempah, yang sepanjang 2011 menghasilkan angka ekspor lebih dari USD40 miliar, agak aneh jika sumbangan PDB subsektor tersebut hanya dilaporkan Rp140 triliun.

Jika kita ambil kelapa sawit saja, pada 2011 lalu produksi kelapa sawit Indonesia lebih dari 23 juta ton. Jika rendemen kelapa sawit sebesar 23 persen (ini sudah suatu angka yang tinggi karena umumnya di sekitar 20 persen), maka untuk menghasilkan 23 juta CPO diperlukan 100 juta ton tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Sepanjang 2011, harga TBS pada level petani saja umumnya berada di sekitar Rp1.400–1.700 per kilogram. Ini berarti untuk 100 juta ton menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp155 triliun (angka rata-ratanya).

Jika angka tersebut dikurangi dengan pupuk dan obat hama, sangat mungkin dari kelapa sawit saja dihasilkan sumbangan PDB sekitar Rp140 triliun, kurang lebih sama dengan sumbangan PDB seluruh subsektor perkebunan sesuai data BPS tersebut. Lalu bagaimana dengan karet,cokelat, teh,dan produk perkebunan lainnya yang pada 2011 lalu juga tumbuh melimpah? Secara kasar, diperkirakan PDB subsektor perkebunan tersebut paling tidak dua kali lipat dari data yang dilaporkan saat ini.

Jika dilihat dari sisi penggunaannya (expenditure side), kinerja perekonomian 2011 sungguh patut disyukuri. Pada tahun 2011 yang lalu, investasi (yaitu Pembentukan Modal Tetap Bruto) naik lebih dari 8,8 persen, sehingga pangsanya mencapai lebih dari 32 persen seluruh PDB. Dalam keadaan investasi yang meningkat demikian tajam, umumnya sektor eksternal (yaitu neraca pembayaran) kita bisa menghadapi ancaman. Namun yang terjadi, neraca perdagangan Indonesia masih surplus hampir USD12 miliar.
 
Ini terjadi karena ekspor juga meningkat sangat tinggi, yaitu sebesar 13,6 persen, sementara impor “hanya” naik 13,3 persen. Perkembangan tersebut membuat perekonomian Indonesia berkembang menjadi semakin sehat dan berimbang. Pangsa konsumsi masyarakat menjadi sebesar 54,6 persen, sementara pangsa investasi mencapai 32 persen dan ekspor mencapai 26,3 persen, sedangkan konsumsi pemerintah hanya sembilan persen. Khusus untuk konsumsi, pangsanya turun cukup tajam dibandingkan tahun 2004 yang lebih dari 60 persen PDB, sementara investasinya pada tahun 2004 hanya sekitar 20 persen dari PDB.

Jika dilihat dari lapangan usahanya,tampak pertumbuhan yang tertinggi masih disumbangkan oleh sektor jasa-jasa, terutama komunikasi dan transportasi yang sebesar 10,7 persen. Data inilah yang sertamerta memancing komentar, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak berkualitas. Jika kita menilik datanya lebih lanjut, pada 2011 lalu sebetulnya merupakan turning point bagi industri pengolahan.

Setelah sejak 2005 pertumbuhan industri pengolahan nonmigas berada di bawah pertumbuhan ekonomi pada umumnya sehingga menimbulkan istilah “deindustrialisasi”, maka pada 2011 lalu industri pengolahan nonmigas telah mencapai pertumbuhan sebesar 6,8 persen, jauh di atas pertumbuhan ekonomi keseluruhan yang mencapai 6,5 persen. Ini berarti, fenomena “deindustrialisasi” sudah tidak terjadi lagi saat ini.
Bahkan kalau kita melihat sumbangan industri pengolahan dalam pertumbuhan ekonomi sebesar 1,6 persen, yaitu sama dengan sumbangan sektor perdagangan, hotel, dan restoran, maka kita melihat kemungkinan terjadinya peningkatan lebih lanjut dari sumbangan sektor Industri pengolahan pada 2012 menjadi lebih besar. Jika pada tahun 2012 ini sumbangannya menjadi paling tinggi, kita semakin layak untuk mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi kita bukan tidak mungkin sebentar lagi akan dihela oleh sektor industri pengolahan, atau yang sering dikatakan sebagai industry led growth.




Dampak positif globalisasi antara lain :
1.      Semakin terbukanya pasar untuk produk-produk ekspor, dengan catatan produk ekspor Indonesia mampu bersaing di pasar internasional. Hal ini membuka kesempatan bagi pengusaha di Indonesia untuk melahirkan produk-produk berkualitas, kreatif, dan dibutuhkan oleh pasar dunia.
2.      Semakin mudah mengakses modal investasi dari luar negeri. Apabila investasinya bersifat langsung, misalnya dengan pendirian pabrik di Indonesia maka akan membuka lapangan kerja. Hal ini bisa mengatasi kelangkaan modal di Indonesia.
3.      Semakin mudah memperoleh barang-barang yang dibutuhkan masyarakat dan belum bisa diproduksi di Indonesia.
4.      Semakin meningkatnya kegiatan pariwisata, sehingga membuka lapangan kerja di bidang pariwisata sekaligus menjadi ajang promosi produk Indonesia.

Dampak negative globalisasi bagi kegiatan ekonomi di Indonesia terutama bersumber dari ketidaksiapan ekonomi Indonesia dalam persaingan yang semakin bebas. Dampak negatifnya sebagai berikut:
1.      Kemungkinan hilangnya pasar produk ekspor Indonesia karena kalah bersaing dengan produksi negara lain yang lebih murah dan berkualitas. Misalnya produk pertanian kita kalah jauh dari Thailand.
2.      Membanjirnya produk impor di pasaran Indonesia sehingga mematikan usaha-usaha di Indonesia. Misalnya, ancaman produk batik Cina yang lebih murah bagi industri batik di tanah air.
3.      Ancaman dari sektor keuangan dunia yang semakin bebas dan menjadi ajang spekulasi. Investasi yang sudah ditanam di Indonesia bisa dengan mudah ditarik atau dicabut jika dirasa tidak lagi menguntungkan. Hal ini bisa memengaruhi kestabilan ekonomi.
4.      Ancaman masuknya tenaga kerja asing (ekspatriat) di Indonesia yang lebih profesional SDMnya. Lapangan kerja di Indonesia yang sudah sempit jadi semakin sempit.
Kesimpulannya, globalisasi bisa berdampak positif atau negatif tergantung kesiapan kita mengadapinya.

Referensi :
http://economy.okezone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar